Siapakah yang tidak kenal Iran? Iran merupakan salah satu negara di Timur Tengah yang menarik perhatian dunia karena ketangguhannya dalam menghadapi hegemoni barat. Rabu, 5 Februari 2020 di ruang teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga. diselenggarakan Dialog Peran Iran dalam Dinamika Timur Tengah dan Teluk Persia Kegiatan ini menghadirkan tiga orang narasumber, yaitu Dr. Ibnu Burdah, MA (Dosen UIN Sunan Kalijaga dan pengamat politik Timur Tengah), Dr. Siti Mutiah Setyawati (Dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada), dan Dr. Supraja (Dosen Prodi Sosiologi Fakultas ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada). Moderator pada kegiatan dialog tersebut adalah Ahmad Assegaf, S.Hum. (mahasiswa Kajian Timur Tengah Program Magister UIN Sunan Kalijaga). Acara dialog dibuka oleh Kepala Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Dra. Labibah Zain, MLIS. Beliau menyampaikan bahwa peran perpustakaan pada masa ini tidak hanya terpaku pada layanan teknis dan layanan pemustaka saja, namun Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga saat ini juga berupaya melakukan pengelolaan pengetahuan. Hal tersebut diwujudkan antara lain melalui kegiatan perpustakaan seperti pengelolaan corner,kegiatan diskusi, eksibisi budaya, dan seminar. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Perpustakaan juga membacakan sambutan dari Konselor Iran dalam rangka 41 tahun Revolusi Iran. Pembicara pertama, Dr. Ibnu Burdah, MA memaparkan beragam fraksi di Iran, latar belakang kekuatan Iran, serta latar belakang persoalan sosial yang melahirkan Hizbullah. Hizbullah merupakan organisasi yang sepenuhnya didukung oleh Iran dalam upaya melawan Israel. Organisasi ini beranggotakan masyarakat Syiah yang bergerak di bidang sosial, politik dan militer. Pembicara kedua, Dr. Siti Mutiah Setyawati sebagai ahli bidang Kajian Politik Timur Tengah memaparkan sistem politik negara Iran. Menurutnya, Iran merupakan negara penting yang berperan meredakan ketegangan di kawasan teluk. Iran merupakan satu-satunya negara yang mengaplikasikan sistem politik Islam yang berbeda dengan sistem demokrasi barat. Soft power diplomasi yang dilakukan Iran salah satunya adalah untuk meyakinkan dunia bahwa nuklir yang dikembangkan bertujuan tujuan mendukung pengembangan ilmu pengetahuan. Pembicara terakhir, Dr. Supraja mengupas Iran dari sisi sosiologi dan budaya dengan lebih banyak mengekspresikan pengalaman beliau selama berada di Iran. Menurutnya, Iran memiliki kekuatan berupa peradaban yang tinggi sebagai bangsa Persia, tradisi pengembangan ilmu pengetahuan, kemadirian bangsa dan tingginya rasa percaya diri masyarakatnya membuat Iran dapat bertahan dari serangan embargo negara barat. Selain itu, terdapat kendali agama yang sangat kuat sehingga kepatuhan dan loyalitas masyarakat kepada pimpinan spiritual Iran sangat menonjol. Hal tersebut mempermudah pemerintah dalam menyatukan masyarakat Iran. Dialog yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga pukul 12.00 WIB ini dihadiri oleh 110 orang peserta dari UIN Sunan Kalijaga maupun dari instansi lainnya. Kegiatan ini merupakan kerjasama Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga dengan Kedutaan Besar Iran Jak