28 – 29 Desember 2017, UMY mengutus 2 pustakawan serta 2 TIM IT UMY untuk belajar di Perpustaka an Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Perpustaka an Universita s Telkom. Mereka yaitu Novy Diana Fauzie, Robi Kurniadi, Ma`arif, serta Eko Kurniawan. Tujuan kegiatan tersebut untuk mempelajar i repository IPB dalam meraih rangking tertinggi di webometric skala Indonesia dan Asia. Tujuan lain adalah untuk mempelajar i desain ruangan serta sistem informasi yang ada di Perpustaka an Universita s Telkom.

 

Hari pertama, mereka belajar di Perpustaka an IPB bersama Kepala Perpustaka an, Pustakawan , serta TIM IT yang ada di sana. TIM IT IPB menceritak an bahwa dulunya Perpustaka an IPB mempunyai sebuah knowledge management system (KMS) yang di dalamnya merupakan gabungan dari berbagai aplikasi perpustaka an, baik aplikasi otomasi, repository , dan juga website perpustaka an. Setelah berjalan beberapa tahun, ternyata sistem tersebut belum memenuhi standar internasio nal. Selain itu, mesin pencari tidak bisa mengindeks file-file yang ada di dalamnya, sehingga mereka memutuskan untuk migrasi sistem.

 

 Sebe lum memutuskan untuk memilih DSpace sebagai aplikasi repository , awalnya ada alternatif untuk menggunaka n aplikasi Eprints, akan tetapi setelah dievaluasi ternyata Eprints menggunaka n database mySql sehingga ketika data yang disimpan di database terlalu banyak, maka proses temu kembali informasi akan menjadi lama. Setelah melalui beberapa proses, akhirnya mereka memutuskan untuk menggunaka n DSpace dengan alasan DSpace dinilai lebih fleksibel pada bagian databaseny a. Mereka menjelaska n bahwa repository merupakan kumpulan karya ilmiah yang ada di suatu Institusi, sehingga repository tidak boleh diisi dengan file - file yang sifatnya tidak berkaitan dengan karya ilmiah. Misalnya sertifikat , cover buku, atau karangan bebas. Jika disebuah repository bersisi karya non ilmiah melebihi 10%, maka secara otomatis akan dibanned oleh google scholar, dampak yang terjadi rangking webometric akan menurun.

Lebih lanjut mereka menjelaska n bahwa untuk kepentinga n kepangkata n bagi para dosen, sebuah kampus harus mempunyai sistem yang berbeda, sehingga di repository tidak akan berisi serifikat maupun peer review, melainkan murni berisi karya ilmiah. Firman mengungkap kan bahwa selama ini ketika kita berbicara tentang repository , kita hanya membahasa bagaimana input, upload, dan download file saja, akan tetapi kita jarang sekali membahasa tentang bagaimana proses preservasi digital yang ada di sebuah repository . Inti dari preservasi digital yaitu menjaga agar koleksi - koleksi yang ada di reposotory bisa didayaguna kan oleh pemustaka di sepanjang waktu. Ada beberapa langkah yang dilakukan oleh Perpustaka an IPB dalam melakukan preservasi digital, yaitu dengan merubah pdf - pdf yang diunggah menjadi PDF A, sehingga diharapkan ketika file pdf sudah dirubah jenisnya, menjadi pdf A maka bisa dibuka dalam jangka waktu yang panjang. Selain itu, untuk mengantasi sipasi terjadinya hack, mereka setiap bulannya melakukan backup database dan backup file-file yang sudah diunggah. 1 hal yang perlu di pertahatik an dalam proses backup, yaitu memastikan file-file hasil backup tersebut harus bisa di impor kembali dalam sisyem. File - file backup tersebut di simpan di media online dan di media offline.

 

Sel ain itu, mereka juga selalu mengupgrad e DSpace setiap kali ada pembaharua n. Tujuannya yaitu untuk meminimali sir terjadinya hack. 2 tahun berturut - turut mahasiswa IPB menjuarai kejuaraan hacker nasional. Dampak yang terjadi banyak orang yang penasaran tentang security sistem yang ada di IPB, sehingga sering repository IPB mendapatka n serangan dari para hacker. Terkait hardware yang digunakan, IPB menyediaka n 305 giga untuk database postgre, dan Hardisk 1,5 tera.

< p>
Las t modified by Eko Kurniawan - January 3, 2018 14:14