Era digital saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi para penulis, khususnya dalam penulisan karya ilmiah. Sebab kecanggiha n teknologi di era digital saat ini justru menjadikan tingkat plagiarism e karya ilmiah sangat mudah dan marak terjadi. Untuk itulah, Perpustaka an UMY pun memberikan tips dan meyelengga rakan Workshop Writing Sistematic Literature , agar plagiasi karya ilmiah yang ditulis bisa di berada di bawah 20 persen. Sebagaiman a disampaika n oleh Dr. Nuryakin, MM, dosen Magister Manajemen Pascasarja na UMY dalam workshop dilaksanak an pada Rabu (20/12) di Gedung Kasman Singodimed jo UMY tersebut. Menurutnya , karena ketersedia an berbagai perangkat teknologi di era digital inilah yang menjadikan orang mudah melakukan plagiarism e. Ironisnya lagi, plagiarism e yang dianggap sebagai tindakan tidak terpuji tersebut justru terjadi di kalangan akademik. Untuk mengatasi tindakan plagiarism e tersebut, Kementrian Riset Teknologi Pendidikan Tinggi mengeluark an peraturan tentang plagiarism e yang mengharusk an karya ilmiah melakukan pengecekan plagiasi menggunaka n software tertentu dan hasilnya harus di bawah 20 persen. “Akan tetapi, tidak sedikit kaum akademik yang merasa kesulitan untuk memenuhi persyarata n tersebut, karena belum mengerti bagaimana sistem pengecekan plagiasi itu bekerja. Selain itu, semakin tinggi pendidikan yang ditempuh maka persyarata n tentang penggunaan jurnal di dalam sebuah penelitian semakin bertambah, yang kemudian tidak menutup kemungkina n meningkatk an tingkat plagiasi. Untuk mengatasi hal tersebut maka peneliti perlu teliti, cermat dan bertanggun g jawab ketika akan mengutip dari sebuah jurnal,” tuturnya. Dr. Nuryakin juga memberikan tips agar karya yang ilmiah yang ditulis bisa bebas plagiasi menggunaka n sistem yang sudah diberikan oleh Kemenriste kdikti tersebut. “Perlu untuk dipahami terlebih dahulu bagaimana sistem alat pengecek plagiasi ini bekerja. Yang sering terjadi adalah kurangnya pengetahua n peneliti dalam menuliskan kutipan sehingga dianggap sebagai plagiasi. Untuk mengatasi hal tersebut maka jangan lakukan kutipan secara langsung yang sama persis. Lihatlah terlebih dahulu kata kunci dari kalimat yang akan dikutip, lalu kemudian buatlah paraphrase dari kalimat tersebut sehingga tidak akan mengubah makna dari kalimat, ungkap Nuryakin. Kembali dijelaskan oleh Dr. Nuryakin, bahwa proses paling sulit dalam menyelesai kan penelitian terletak pada kajian pustaka. “Saat ini sudah tidak zamannya lagi melakukan kajian literature dengan menggunaka n stabilo hijau lalu dibaca secara keseluruha n jurnalnya dan kesulitaan mencari jurnal. Karena terdapat banyak sekali teknologi yang memudahkan pekerjaan tersebut. Salah satunya, peneliti bisa membuat sebuah perpustaka an maya sendiri yang berisi berbagai jurnal sesuai dengan disiplin ilmu, sehinga nantinya ketika akan mencari jurnal tidak kesulitan. ” tuturnya. Setelah mengumpulk an jurnal permasalah an berikutnya adalah bagaimana caranya untuk menulis secara efektif. Pada prinsipnya penulisan karya ilmiah memerlukan perujukan, penegasan dan penguatan dari peneliti sebelumnya atau sumber-sum ber yang memperkuat dan memperkaya penelitian . “Kata kuncinya terdapat pada perujukan, penegasan dan penguatan dari penelitian sebelumnya . Maka dari itu peneliti harus memperhati kan author guidelines dan harus konsisten dengan gaya tersebut, tambah Dr. Nuryakin lagi. Selain permasalah an plagiasi, para peniliti khususnya civitas akademika juga sering membuat parade jurnal, yakni terlalu banyak kalimat pendahulua n yang tidak langsung tertuju kepada fokus penelitian . “Banyak mahasiswa membuat parade jurnal dengan alasan supaya karya ilmiahnya terlihat banyak dan tebal. Padahal sebenarnya hal tersebut justru menjadikan nilai jual jurnal turun dan memang itu tidak seharusnya dilakukan, ” tutup Dr. Nuryakin. (zaki) Sharing is caring!&nb sp;